Langsung ke konten utama

WABAH COVID-19

TEGURAN SANG PENCIPTA

By. Nun kota Baja
11042020


Singkirkan Kesombongan
Singkirkan keangkuhan
Ini teguran hakiki

Apa kata kita?
Mungkin ada segudang mobil pribadi?
Namun semua tak lagi beranjak?
Semua tak berkutik dari garasi?
Apa yang kita lihat?
Apa yang bisa kita maknai atas semua ini?

Allah SWT sedang menegur dan menguji manusia
Ujian dan teguran langsung
Melalui makhluknya yang super kecil
Hingga manusia tak mampu beraktivitas selayaknya lagi

Kini semua mengetahui
Lalu lintas udarapun telah ditutup dan berhenti
Bukan hanya negeri ini
Tapi seluruh dunia mengalami

Apa makna semua ini?
Kini masing-masing negara bergerak pasti
Kini masing-masing negara memilih fokus
Menangani mengurusi dan merawat
Seluruh warganya untuk bisa kompak
Berperang melawan musuh kecil
Makhluk Allah SWT yang tak terlihat namun begitu hebat
Melumpuhkan dunia dalam sekejap

Kini begitu terasa
Meski menggunung rezeki yang manusia punya
Namun tetap tanpa daya
Setiap manusia terkurung dalam kamarnya

Para model tak bisa berlenggok berkreasi
Menampilkan desain modern masa kini
Menyajikan produk designer terkenal dunia

Kini harus segera disadari
Apa makna wabah ini
Ada harta menumpuk di lemari
Berjubel sepatu, jam tangan, baju-baju
Tas tangan tas pinggang koper juga minyak wangi
Semua masih mengantri untuk dibawa pergi menemani
Sekotak perhiasan dan asesoris mewah
Tentu menjadi kehilangan arti
Tergeletak menunggu tangan lembut menyentuh agar kembali punya arti

Di kantor dan tempat kerja seakan mati
Kini tak ada lagi telepon berdering Panggilan meeting
Tak ada lagi pertemuan meski sekedar arisan

Semua kesibukan yang menyita waktu
Sehingga sering kali kita lupa
Tak punya waktu lagi
Buat keluarga
Buat bersujud pada Allah SWT Pencipta semesta

Kini semua tiada ada arti
Semenjak Allah SWT mengirim bala tentara penguji
Makhluk kecil yang tak terlihat namun ditakuti
Jadi apalagi yang harus dilakukan?

Kesombongan?
Kebanggaan?
Keangkuhan?
Keserakahan?
Melupakan kewajiban?
Mungkinkah semua itu hadir di bumi ini?

Sudah waktunya
Hendaklah semua mawas diri
Yang punya silahkan berbagi
Yang kaya apa lagi
Saling tepo seliro saling menyayangi
Saling memberi dan berbagi buat saudara yang kesulitan rezeki

Perlu melihat dan menengok kanan kiri
Saat ini pasti semakin banyak penduduk negeri ini
Yang membutuhkan uluran tangan
Kaum duafa bisa jadi semakin meningkat tinggi
Semakin banyak saudara kehilangan pekerjaan
Ada yang dirumahkan atau di PHK
Beralihlah mereka menjadi pengangguran
Tinggal di dalam rumah tak boleh keluar rumah
Buat makan pun akhirnya menunggu jatah
Dari para dermawan yang dikirim dari pemerintah atau yang sampai ke rumah

Saat ini Allah SWT  sedang  menguji
Biar manusia bisa membuka mata
Agar mampu melihat sesamanya

Agar manusia dapat menyadari
Berapa banyak saudaranya yang terpapar di RS saat ini

Mereka tinggal dengan kelas yang sama
 Tidak ada lagi kelas elit, kelas eksekutif, kelas VIP, dan Super VIP
Semua dirawat dalam ruang dengan kelas yang sama

Siapapun Orangnya
Biar Banyak harta atau yang miskin harta
Semua bersatu di ruang Perawatan yang sama
Kelas perjuangan melawan penyakit
Melawan wabah yang mendunia

Semua bersatu dalam perjuangan
Dengan pelayanan yang sama.

Dalam rumah sakit tidak lagi bisa memilih
Tidak ada ruang tersisa
Yang penting masih bisa diterima

Ada lagi yang lebih menyedihkan sebagai manusia
Saat meninggal pun tanpa sanak sodara
Tanpa bisa ditemani orang-orang tercinta

Meski meninggalkan harta berlimpah
Sendirian saja pergi ke rumah terakhirnya

Renungkan kembali ini
Banyak orang berlimpah harta
Saat sehat semua orang mendekat
Namun kini
Saat divonis terkena virus mendunia ini

Virus super kecil yang mematikan ini
Meskipun kaya raya semua orang menjauhi

Bahkan Masjid  yang megah dan mahal pun sekarang kosong tanpa ada yang berani

Sedih tak bisa dihindari
Tiba waktunya setiap orang bersujud dan bersyukur mengabdi

Sadar diri Allah swt sedang menguji
Didalam menunjukkan kebenaran yang hakiki
Kebenaran mutlak yang harus disadari
Kebenaran yang merasuki di alam hati sanubari

Kini harus kita sadari
Kebutuhan manusia hanya sepiring nasi
Kebutuhan kita hanya makan sehari tiga kali
Sedangkan udara saja kita tidak beli
Cukup di hirup sepuas hati
Allah SWT tidak minta kita membeli
Semua diberikan gratis dari lahir hingga nanti mati
Ingatlah, kasih sayang Allah SWT
Tak ada yang sanggup mengganti

Kini kita hanya ingin hidup
Terjauh dari wabah penyakit ini
Jangan sampai peringatan ini kita abaikan lagi
Terkurung di rumah tanpa tahu waktu yang pasti kapan berhenti
Pasti semua sama merasakan pedihnya virus ini
Hingga selebihnya harta melimpah menjadi tidak penting lagi

Dunia tak pernah melihat kesombongan narsis seperti di jaman ini!

Namun kita harus segera bersyukur lagi
Kita masih diberikan 1 kesempatan lagi untuk introspeksi,
Melihat kedalam diri
Bertanya kepada Allah swt tentang apa yang terjadi

Bertanya lah dalam sujud
Kenapa Allah,swt membiarkan kita tetap hidup?"

Selama ini hanya berkelakar dalam tawa
Perjalanan jauh keliling dunia
Keliling kota dengan mobil mewah

Bahkan setelah bosan membeli mobil baru lagi

tau mungkin untuk menyelesaikan pendidikan sarjana?
Ini kesombongan atau kebutuhan
Apakah tujuan hidupku sekarang juga nanti? Apakah tujuan hidupku setelah pandemi Covid 19?

Mengapa Allah menyelamatkan aku
Lalu mengijinkan yang lain mati?

Mari kembali kita syukuri
Manfaatkan waktu yang diberi ini
Manfaatkan untuk saling memberi
Semua harta tidak akan dibawa mati
Sedekah dan amal sholeh nti yang menemani ketika kita mati

Mari sama sama kita renungi
Manfaat apa yang bisa kita bawa
Ketika manusia mati?

Mari segera lakukan
Jangan sampai menyesal nanti
Selagi banyak manusia membutuhkan
Fakir miskin dan duafa menanti

Ayo segera lakukan
Yang seharusnya kita lakukan
Jangan sia-siakan waktu yang diberi
Sisa hidup untuk mengabdi
Menggapai ridho Illahi Robby
Meski hanya satu kali ini
Allah SWT telah mengizinkan dan memberikan satu kesempatan lagi

Mari kita berdoa dan bertobat
Membuat komitmen baru untuk menjalani hidup ini dengan lebih berarti.

Semoga Allah swt merahmati
Kita semua hidup dalam naungan
Hidup manfaat
Melangkah lurus di jalan menuju syurgawi

Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI SAIHURONCERIK

*Challenge XVI* Salam Saihu Sai Hu Hudan Saihudan _Bismi Robbika_ Petualangan, pendakian, penyelaman, pendaratan, masih meminta tempuhan raga jiwa manusia. Segala jalan dicari, dikenali, dimaknai, ditafsiri agar diri merasa yakin pengembaraannya bermakna.  Seharian, kemarin 08/05/2020 kita masih ragu kadang malu malu menuang *Saihuronce* yang kadang asing di pendengaran pemirsaaahhhhh hehehee. Saihuronce sejatinya sedang membawa kita memaknai angka yang "kita anggap" bermakna sebagai sebuah ayat (tanda).  Challenge XV ada di pusaran mulut, lapisan bibir (eithhhh hati hati). Diwakili wujudiahnya dengan suku kata dan kata (Saihuronceka). Nah, pada Challenge XVI bergeser pada palung *Saihuroncerik,* yakni saihu yang meronce (mengurai dan menyusunnya kembali) angka yang menjadi pola saihu murni (3456/2256). Hmmmm ingat usia pendewasaan dan pematangan. Bagaimana lagi Saihuroncerik? Andai saja tubuh kita adalah kumpulan satuan organ luar _(surface structure)_ dan organ dalam _(deep...

PESAN RASULULLAH

"PESAN RASULULLAH SAW SEBELUM WAFAT" Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad, Allah berpesan kepada malaikat Jibril “Hai Jibril, jika kekasihku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW... Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam... “Bolehkah saya masuk?” tanyanya... Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu... Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hend...