Langsung ke konten utama

BERANI BERKEBUN DI MEDIA POT


By. Planet

Minggu pagi ini, bangun tidur saya langsung membuka pintu belakang buat melihat tanaman pot yang saya sebut sebagai kebun. Beberapa macam buah dan bunga saya tanam.
Meski awalnya saya tidak terlalu suka dengan tanah namun naluri cinta tanam -menanam sepertinya tidak bisa ditolak. Akhirnya buat mengisi waktu, saya mencoba dengan tanaman yang mudah tumbuh terlebih dahulu. Pokoknya saya pilih tanaman yang tahan banting terhadap cuaca, hama, dan air. Khawatir males siram- menyiram, atau kita tinggal bepergian beberapa hari.
Mulailah saya memilih tanaman yang awalnya hanya ada 5 pot bunga.
Namun akhirnya setelah tanaman yang saya uji coba berhasil tumbuh, akhirnya saya keterusan.
Saya jalan jalan ke tempat penjual bunga sambil melihat lihat dulu. Eeh saya jadi tertarik dan berhasil memiliki tanaman sampai totalnya harga lumayan. Tapi tidak semua tanaman. Harga itu sudah termasuk media tanaman, dan pot yang sudah disesuaikan dengan ukuran tanaman yang saya beli.
Melanjutkan berkebun, saya berani berpetualang di kebun kadang bisa lebih dari satu jam. Saya juga sering berkunjung ke tempat-tempat penjual bunga. Sekedar melihat siapa tahu ada tanaman yang berbeda dan tertarik, sebagai tambahan aktivitas berkebun. Terkadang saya juga minta ke saudara yang sedang jalan-jalan buat mencari tambahan tanaman yang belum ada, dan susah dicari. Yaa hanya untuk menambahkan bunga dan pohon buah-buahan yang ada.
Ooh iyaa, awalnya untuk tanaman buah, saya mulai dengan membeli 2 pohon untuk masing-masing jenis buah-buahan. Buah jambu kristal, kedondong, Belimbing, sudah beberapa kali berbuah. Ada juga manggis, kelengkeng, sawo, dan tanaman lainnya.
Setelah lahan belakang rumah sudah tidak muat lagi, saya merasa harus stop dulu nih beli beli tanaman baru. Termasuk saya juga belum merasa mampu buat merawat semuanya. Jadi yaa harus menyesuaikan dengan kondisi badan sendiri. Ini tujuannya hanya buat hiburan, membahagiakan diri melalui tanaman. Baik tanaman bunga, sayuran, dan buah-buahan. Kalau saya masih pada tanaman buah-buahan dan bunga. Kalau tanaman sayur baru sampai pada tanaman cabe rawit dan kesulitannya juga berbeda.

Kebahagiaan menanam buah cangkok selain pohon pendek & hijau, juga akan lebih cepat berbuah. Saya sudah mulai merasakan bisa memetik buah di kebun sendiri. Meskipun hanya bertanam di dalam pot karena tanahnya sudah di tutup semen. Tanaman pot juga sudah membahagiakan loh. Silahkan dicoba yaa.
Merawat tanaman pot juga tidak susah. Yang pasti sedikit saja waktu buat menyiram sehari sekali. Kalau lagi musim hujan seperti ini malah tidak perlu menyiram.
Tambahkan media jika tanah dalam pot sudah menurun.
Seperti hari ini saya harus membeli 3 pot berukuran 55cm, buat menggantikan tanaman pot yang sudah mulai tumbuh besar.
Sebenarnya tidak diganti juga tidak masalah, namun melihat nya jadi kurang indah. Karena badan tanaman dengan ukuran bajunya jadi tidak sesuai, gitu ibarat nya.
Saya biasa kalau pergi ke tempat penjual bunga selalu minta ditemani keluarga. Kadang malah semua saya ajak biar mulai merasakan keindahan tanaman yang ada di sekitar kita, yang harus kita jaga & pelihara. Kita rawat. Merawat dan menanam tumbuhan juga ibadah karena menjaga kelestarian alam.
Semenjak mulai mencoba menanam, dan ternyata berhasil, itu sudah hot, bahagia banget. Bersyukur ternyata tangan saya diberi kemampuan buat merawat dan merasakan kebahagiaan tanaman yang tumbuh subur.
Setelah merasakan kebahagiaan bersama tanaman, saya mulai berpikir untuk melestarikan buah yang kita makan agar tidak punah. Banyak tanaman zaman kecil dulu sekarang sudah jarang ditemui.
Jadi setiap makan buah atau sayuran apapun yang memiliki biji-bijian, maka bijinya saya minta tidak dibuang.
Biji-bijian itu saya simpan, sampai kering dan pada saatnya saya tanam.
Dengan maksud kalau buah itu buah langka semoga akan menjadi bibit yang tumbuh dan tetap lestari di bumi ini.
Semoga setiap orang yang suka makan buah-buahan dapat ikut serta melestarikan alam dengan menanam kembali biji yang ada.
Tidak usah dirawat, biasanya bijinya yang kuat cukup ditaruh saja di tanah, yaa kalau mau lebih baik bisa di tanah yang subur, sehingga tanaman itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Itu dulu yaa tulisan tanaman kali ini. Semoga nanti kita bisa sambung lagi dengan tulisan lainnya. Selamat berkebun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI SAIHURONCERIK

*Challenge XVI* Salam Saihu Sai Hu Hudan Saihudan _Bismi Robbika_ Petualangan, pendakian, penyelaman, pendaratan, masih meminta tempuhan raga jiwa manusia. Segala jalan dicari, dikenali, dimaknai, ditafsiri agar diri merasa yakin pengembaraannya bermakna.  Seharian, kemarin 08/05/2020 kita masih ragu kadang malu malu menuang *Saihuronce* yang kadang asing di pendengaran pemirsaaahhhhh hehehee. Saihuronce sejatinya sedang membawa kita memaknai angka yang "kita anggap" bermakna sebagai sebuah ayat (tanda).  Challenge XV ada di pusaran mulut, lapisan bibir (eithhhh hati hati). Diwakili wujudiahnya dengan suku kata dan kata (Saihuronceka). Nah, pada Challenge XVI bergeser pada palung *Saihuroncerik,* yakni saihu yang meronce (mengurai dan menyusunnya kembali) angka yang menjadi pola saihu murni (3456/2256). Hmmmm ingat usia pendewasaan dan pematangan. Bagaimana lagi Saihuroncerik? Andai saja tubuh kita adalah kumpulan satuan organ luar _(surface structure)_ dan organ dalam _(deep...

PESAN RASULULLAH

"PESAN RASULULLAH SAW SEBELUM WAFAT" Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad, Allah berpesan kepada malaikat Jibril “Hai Jibril, jika kekasihku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW... Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam... “Bolehkah saya masuk?” tanyanya... Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu... Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hend...