*Kode Keras Bagi Guru*
Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sejenak kita keluar dari diskursus “Susur Sungai” dan “Guru Bukan Begal”. Satu sudut pandang coba saya ketengahkan. Sudut pandang apa? Sudut pandang introspeksi diri bagi para guru.
Introspeksi mendalam ke bilik rumah profesi guru. Mengapa Saya tulis ini? Selain memberikan kritik pada internal juga menjawab harapan pembaca, dimana Saya dianggap terlalu “nyosor” membela guru dari sudut pandang advokasi literatif.
Ahaa, guru adalah manusia biasa yang harus sempurna. Guru tak boleh salah. Guru tak boleh bohong. Guru tak boleh khilaf. Guru tak boleh lalai. Bahkan guru tak boleh mengeluh sekali pun honorer seumur hidup.
Guru harus tampil seolah tanpa masalah. Guru harus terlihat sejahtera walau pun honorer. Guru harus total melayani anak didik. Guru bertanggung jawab atas moral intelektual setiap anak. Guru harus sangat ramah pada setiap anak walau dirinya punya masalah berat. Guru oh guru!
Itulah tuntutan pada profesi guru dari publik. Sungguh berat bahkan sangat-sangat berat! Guru saat berprestasi dan saat berdedikasi luar biasa hanya akan dapatkan sedikit pujian atau penghargaan. Ungkapannya, “Wajar Dia kan guru”.
Tapi kalau guru salah maka jutaan hujat akan menimpanya. Termasuk tragedi susur sungai, guru dihujat habis-habisan bahkan oknum penyidik pun ikut melakukan tindakan merendahkan derajat guru dengan menggundulinya.
Bagi kita para guru, tragedi susur sungai adalah “kode keras” dari Tuhan. Khususnya kepada para guru. Jangan asal menjadi guru. Jangan jadi guru asal, Jangan asal-asalan menjadi guru. Jangan sampai menyesal karena menjadi guru.
Menjadi guru itu profesi paling terhormat di muka bumi. Karena terhormat dan mulia maka “jangan salah”. Jangan salah itu idealanya diberikan pada Malaikat atau Dewa. Faktanya publik menghendaki guru jangan salah. Ia harus sempurna tanpa cacat bagai Malaikat.
Kritik bagi kita para guru dan bagi negara bahwa profesi guru adalah profesi yang paling penting di negeri ini. Guru harus bekerja tidak hanya sekedar bekerja. Ditangannya anak bangsa menjadi harapan semua pihak. Ditangan para guru sebuah generasi bisa selamat atau celaka.
Stoooop! Stop! Stop anak menjadi korban karena kelalain guru. Guru harus menyelamatkan anak bukan malah membuat anak jadi korban. Tragedi susur sungai yang menyebabkan 10 anak menjadi korban sungguh kecerobohan yang sangat-sangat ceroboh. Mari para guru introsfeksi secara kolektif dan mendalam.
Ungkapan bijak mengatakan, “Tidak ada anak yang salah apa pun yang terjadi pada dirinya, kitalah orang dewasa (para guru dan orangtua) yang bersalah atas segala hal yang menimpa Sang Anak”. Mari kita terima segala kritik dan bahkan cacian sebagai “bekal” memperbaiki diri.
Susur sungai adalah kode keras pada insan pendidikan mulai dari Kemdikbud sebagai hulu sungai sampai satuan pendidikan sebagai muara realitas keseharian pendidikan kita. Susur sungai dari hulu ke hilir harus efektif dan efisien. Layanan pendidikan yang memerdekakan harus hadir.
Hadir untuk anak didik, pendidik dan tenaga kependidikan. Semua bergerak seirama "susur"sungai pendidikan kita. Kedepan tidak ada lagi guru lalai, guru digunduli, guru tidak sejahtera dan anak didik yang menjadi korban.
Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Sejenak kita keluar dari diskursus “Susur Sungai” dan “Guru Bukan Begal”. Satu sudut pandang coba saya ketengahkan. Sudut pandang apa? Sudut pandang introspeksi diri bagi para guru.
Introspeksi mendalam ke bilik rumah profesi guru. Mengapa Saya tulis ini? Selain memberikan kritik pada internal juga menjawab harapan pembaca, dimana Saya dianggap terlalu “nyosor” membela guru dari sudut pandang advokasi literatif.
Ahaa, guru adalah manusia biasa yang harus sempurna. Guru tak boleh salah. Guru tak boleh bohong. Guru tak boleh khilaf. Guru tak boleh lalai. Bahkan guru tak boleh mengeluh sekali pun honorer seumur hidup.
Guru harus tampil seolah tanpa masalah. Guru harus terlihat sejahtera walau pun honorer. Guru harus total melayani anak didik. Guru bertanggung jawab atas moral intelektual setiap anak. Guru harus sangat ramah pada setiap anak walau dirinya punya masalah berat. Guru oh guru!
Itulah tuntutan pada profesi guru dari publik. Sungguh berat bahkan sangat-sangat berat! Guru saat berprestasi dan saat berdedikasi luar biasa hanya akan dapatkan sedikit pujian atau penghargaan. Ungkapannya, “Wajar Dia kan guru”.
Tapi kalau guru salah maka jutaan hujat akan menimpanya. Termasuk tragedi susur sungai, guru dihujat habis-habisan bahkan oknum penyidik pun ikut melakukan tindakan merendahkan derajat guru dengan menggundulinya.
Bagi kita para guru, tragedi susur sungai adalah “kode keras” dari Tuhan. Khususnya kepada para guru. Jangan asal menjadi guru. Jangan jadi guru asal, Jangan asal-asalan menjadi guru. Jangan sampai menyesal karena menjadi guru.
Menjadi guru itu profesi paling terhormat di muka bumi. Karena terhormat dan mulia maka “jangan salah”. Jangan salah itu idealanya diberikan pada Malaikat atau Dewa. Faktanya publik menghendaki guru jangan salah. Ia harus sempurna tanpa cacat bagai Malaikat.
Kritik bagi kita para guru dan bagi negara bahwa profesi guru adalah profesi yang paling penting di negeri ini. Guru harus bekerja tidak hanya sekedar bekerja. Ditangannya anak bangsa menjadi harapan semua pihak. Ditangan para guru sebuah generasi bisa selamat atau celaka.
Stoooop! Stop! Stop anak menjadi korban karena kelalain guru. Guru harus menyelamatkan anak bukan malah membuat anak jadi korban. Tragedi susur sungai yang menyebabkan 10 anak menjadi korban sungguh kecerobohan yang sangat-sangat ceroboh. Mari para guru introsfeksi secara kolektif dan mendalam.
Ungkapan bijak mengatakan, “Tidak ada anak yang salah apa pun yang terjadi pada dirinya, kitalah orang dewasa (para guru dan orangtua) yang bersalah atas segala hal yang menimpa Sang Anak”. Mari kita terima segala kritik dan bahkan cacian sebagai “bekal” memperbaiki diri.
Susur sungai adalah kode keras pada insan pendidikan mulai dari Kemdikbud sebagai hulu sungai sampai satuan pendidikan sebagai muara realitas keseharian pendidikan kita. Susur sungai dari hulu ke hilir harus efektif dan efisien. Layanan pendidikan yang memerdekakan harus hadir.
Hadir untuk anak didik, pendidik dan tenaga kependidikan. Semua bergerak seirama "susur"sungai pendidikan kita. Kedepan tidak ada lagi guru lalai, guru digunduli, guru tidak sejahtera dan anak didik yang menjadi korban.
Komentar
Posting Komentar