RESENSI
1
Pemateri : Ibu Nuraeni Pengawas dari Cianjur
Moderator: Ibu Sri Yasmini
Tema: Berbagi Ilmu dan Saling
Menginspirasi
Pertama
ibu Nuraeni memperkenalkan diri, selain menyebutkan profil beliau. Usia beliau
sudah 59 tahun. Saat ini beliau menjabat sebagai Pengawas mata pelajaran PJOK
SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur-Jawa Barat. Beliau menjelaskan bahwa
melalui menulis bisa mendapatkan
kesempatan reward dari Pemerintah untuk pergi ke Negara China, Jepang,
Thailand, Malaysia, dan Singapore. Selain hal tersebut melalui menulis beliau
berkesempatan mengajukan kenaikan golongan hingga sekarang sudah golongan IV/d
sehingga berkesempatan pension di usia 65 tahun.
Ibu
Aini salah satu peserta workshop langsung berkomentar “luar biasa bunda, nama
kita sama nih, tapi Masya Allah prestasi bunda luar biasa”.
“Saya
belajar menulis mulai bulan januari 2017” ibu Nuraeni melanjutkan
materinya. Pada setiap ada pelatihan
menlis saya ikuti, sampai ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Provinsi lainnya. Dan
Alhamdulillah saya di tahun 2020 ini baru punya 4 buku tunggal dan 13 buku
antologi. Tidak banyak siih kata beliau. Tapi saya pribadi bangga, dan ingin
menyatakan pada dunia bahwa Guru PJOK bisa menulis.
Di
penghujung usia ini, saya ingin terus berkarya melalui tulisan. Saya konsisten
menulis setiap hari di blog gurusiana,
ini adalah hari ke 34 saya menulis secara rutin di blog itu tanpa bolong.
Sesi
ini adalah materi tentang berbagi pengalaman dalam menulis ( mohon maaf tidak
bermaksud riya) kata beliau.
Bapak
Ibu Hebat, baik ASN maupun yang ASN. Saat ini kalau ingin mengikuti Guru
Berprestasi, OGN, Seminar Nasional, atau Inobel, kita harus punya odal tulisan.
Saya
beberapa kali berkesempatan untuk berbagi ilmu dengan para Guru Garis Depan
(SMT3T) di Jakarta, Palembang, Yogyakarta yang diundang oleh Subdit PKK GTK
Kemdikbud. Mereka bisa ikut kegiatan itu karena mengirim tulisan melalui link
yang disedikan oleh Kemendikbud.
Begitu
juga dengan Kesharlindung Dikdas dan Dikmen, untuk mengundang guru hadir dalam
kegiatan Bimtek/Workshop/Semiloka/Lokakarya/Seminar Nasional, maka syarat
utamanya adalah mengirim tulisan.
Untuk
itu, tidak henti-hentinya saya mengajak kepada para guru, kepala sekolah, rekan
pengawas untuk mau menulis.
Komentar
berikutnya dari ibu Sri yamini,”Bukan riya..Bunda @Nuraeni-Cianjur Pngawas dan
Penulis, tetapi berbagi pengalaman siapa tahu saya dan bpk/ibu di group ini
ketularan jadi bisa hebat menulisnya seperti Master-master yang sudah berbagi
pengalaman yang luar biasa.
Berikutnya
ibu Nuraeni melajutkan materinya. Pengalaman saya naik pangkat juga begitu,
dengan bermodalkan Buku hasil PTS ber-ISBN dan dua buaku Cerpen, maka saya bisa
naik pangkat, unsure Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatifnya terpenuhi. Berikut
saya share Buku 4, tentang PD, PI, dan KI versi terbaru. Jadi bapak ibu jika
ingin menyusun Laporan PTK, membuat Modul, Makalah, dan lainnya bisa melihat
Buku Panduan ini.
Buku
4 ini menjadi andalan saya untuk menulis cerpen atau antologi puisi. Supaya
cerpen ataupun antologi puisi Bapak dan Ibu tidak sia-sia, dan suatu saat bisa
dijadikan untuk kenaikan pangkat, maka bapak/ibu bisa melihat di halaman 42
Kategori Karya Inovatif, nomor 2 Menemukan/Menciptakan Karya Seni, huruf b.
Jenis Karya Sastra, 1) Seni sastra, meliputi: kumpulan cerpen, kumpulan puisi,
naskah drama/teater/film.
Untuk
lebih lengkapnya disilahkan bapak ibu membaca buku tersebut. Kesempatan bertanya diberikan kepada
peserta. Pertanyaan dari ibu Desti
Mairoa. Ibu Desti bertanya, “Antologi puisi yang dimaksud apakah bisa antologi keroyokan
atau karya pribadi bunda?”Pertayaan selanjutnya dari ibu Aini yaitu, apakah
buku antologi bisa diajukan untuk kenaikan pangkat? Saya baru ada 12 buku
antologi, dan semuanya tentang pendidikan. Terimakasih.
Beliau
menjawab; Bukan keroyokan,tapi kumpulan karya pribadi nilainya 100%, sedangkan
keroyokan, jika dibuat oleh dua orang, maka penulis ke-1 mendapat angka kredit
60%, dan penulis ke-2 mendapat 40%. Jika dibuat oleh 3 orang, penulis ke-1
mendapat 40%, penulis ke-2 mendapat 30% dan penulis ketiga 30%. Jika dibuat
oleh 4 orang, penulis kesatu 40%, penulis kedua 20%, penulis ketiga 20% dan
penulis keempat 20%. Maksimal empat orang penulis. Jika dibuat oleh 20 orang
atau lebih, maka yang mendapat angka kredit hanya penulis ke- 1, ke-2, ke-3,
dan ke-4 saja. Demikian jawaban ibu
Nuraeni buat ibu Desti Miroa.
Selanjutnya
jawaban bunda Nuraeni buat pertanyaan dari ibu Aini. Menurut Bunda Nuraeni,
Buku antologi diajukan kenaikan pangkat, dengan syarat ber-ISBN. Jangan lupa
setiap kita cetak buku, minta disertakan juga Surat Keterangan dari Penerbit,
bahwa buku kita sudah dipublikasikan secara Nasional. Antologi yang dimaksud
mungkin keroyokan. Semua sudah dijelaskan, maksimal yang dapet nilai AK hanya
penulis di urutan 1,2, 3, dan 4 saja.
Pertanyaan
selanjutnya dari Bapak Anis Prasetya, yaitu kalau buku memoar kenapa ada yang
tidak diakui AK nya ya bunda? Jawaban beliau di beberapa kabupaten atau kota
mungkin ada masalah.
Pertanyaan
berikutnya dari Moch. Khoir, bahwa Seharusnya setiap penulis mendapatkan nilai
jika tulisan diidentikkan dengan book chapter. Book Chapter tetap dinilai meski
urutan ke-7 atau ke-10. Jika yang dinilai hanya empat orang, itu membunuh
semarak penulisan antologi di seluruh penjuru negeri. Jika itu sebagai aturan,
sebaiknya aturan ditinjau ulang.
Berikut
jawaban Ibu Nuraeni, kebetulan saya menulis Memoar, ber-ISBN dilampiri surat
keterangan maka lolos. Kemungkinan ketidak tahuan tim penilai Pengembangan
Keprofesian tentang ketentuan di halaman 42. Kategori Karya Inovatif, Nomor 2 Menemukan/Menciptakan
Karya Seni, huruf b. Jenis Karya Sastra, 1) Seni sastra, meliputi: kumpulan
cerpen, kumpulan puisi, naskah drama/teater/film. Kebetulan saya juga tim
penilaian angka kredit (AK). Jadi perlu kesepahaman tentang hal ini. In syaa
Allah kalau Tim Penilai AK-nya seneng menulis pasti mengerti akan hal ini.
Dilanjukan
komentar dari notulen yang menyetujui pendapat Bapak Moch.Khoiri, karena
kasihan yang menulis ada diurutan paling belakang. Biasanya yang dirutan
belakang adalah pengiriman tulisan yang paling belakang. Sudah capek-capek
menulis dan mengirimkan karya,namun tidak mendapat nilai. Kemudian Bapak
Moch.Khoir menambahkan bahwa urutan belakang bukan berarti submitnya belakang.
Bisa jadi namanya tersusun alfabetis, dan nama Zaini selalu di belakang.
Selanjutnya
Bunda Nuraeni menambahkan, bahwa itu sudah menjadi aturan penilaian angka
kredit. Mudah-mudahan dengan Mas menteri yang sekarang akan terjadi perubahan
lagi. Buku 4 versi 2012 yang boleh membuat karya satra hanya Guru bahasa saja.
Ada perubahan di Buku 4 versi 2016 Kategori Karya sastra berlaku untuk semua
guru mata pelajaran. Sehingga saya bisa mendorong temen-temen yang bukan mapel
bahasa untuk menulis supaya dapat AK. Makanya sebaiknya menulis bukan hanya
untuk kenaikan pangkat.
Disambung
oleh komentar bapak Moch. Khoiri, yang meminta tolong disuarakan atauran yang
terbaik. Aturan itu bisa diubah jika banyak yang sepakat. Semakin banyak suara
pengusul, ya semakin banyak peluang. Saya yakin, dalam tahun-tahun ini , buku
antologi akan menggenjot budaya literasi di kalangan guru, sebeleum kemudian
beliau –beliau menulis buku solo (mandiri).
Berikutnya
bu Sri yamini, mengucapkan hamdallah untuk pemateri dan penanya semua, juga
belajar menulis bukan untuk naik pangkat buku-buku yang sudah dicetak belum
pernah dipakai untuk naik pangkat, kalau di Bandung untuk naik pangkat
diperlukan sertifikat 32 jam, makal/ptk.
Bapak
Anis juga menambahkan komentar dengan mengajak teman-teman di kelas menulis
online ini untuk menulis puisi atau tulisan-tulisan yang sudah jelas angka
kreditnya, meski akhirnya dikembalikan lagi pada tekad dan niat bapak ibu dalam
menulis.
Demikian
Bapak-ibu, tentu dari uraian yang sudah ibu Nuraeni paparkan menjadi semakin
memotivasi untuk membuat berbagai karya tulis termasuk menulis buku ber-ISBN, yang
tidak hanya untuk syarat kenaikan
pangkat atau golongan, namun lebih dalam niat berbagi ilmu, pengetahuan, dan
saling menginspirasi.
Langsung dibuat dlm bentuk word
BalasHapusOk om jay
BalasHapus