Pertemuan kali ini, diawali dengan tayangan video dari Om Jay. Isi video mengarah pada materi yang akan dibahas tentunya. Usai tayang video pertama, ada tanya jawab atau pertanyaan dari Om Jay tentang isi video.
Kemudian om Jay melanjutkan materi, yaitu bercerita tentang tulisan bapak Rhenald Kasali di koran Kompas, Sabtu 7 Maret 2009 yang berjudul Pendidik, Bukan Pemburu. Judul yang menyadarkan bagaimana seharusnya tugas dan tanggung jawab bagi seluruh pendidik.
Selanjutnya om jay bercerita, ada kisah dari seorang guru yang mengatakan bahwa "dirinya hampir saja menjadi seorang pemburu dan bukan seorang guru di kelasnya sendiri. Kemudian orang tersebut melanjutkan kisahnya dan berkata bahwa kematian yang cukup mengenaskan telah dialami oleh David H Wijaya, mahasiswa pintar asal Indonesia, yang tewas di Nanyang Tech University, Singapura pada Hari Senin, 2 Maret 2009 harus membuat para pendidik di Indonesia terbangun dari mimpi-mimpi indah. Kita harus sadar bahwa para pendidik dari luar negeri sangat pandai memburu siswa-siswi cerdas kita untuk negaranya. Bagaimanakah dengan kita para pendidik bangsa ini? papar orang tersebut..
Saya setuju dengan pendapat pak Renald Kasali bila bangku sekolah tentu bukan hutan belantara yang di diami aneka satwa liar nan buas. Sekolah adalah entitas sosial yang mendidik masyarakat agar hidup dalam peradaban ilmiah, saling menghargai, dan mencapai kesejahteraan atau kebahagiaan. Lalu mengapakah para guru seringkali lupa bahwa peserta didik adalah manusia yang harus diperlakukan layaknya manusia? Bukan seperti binatang buas yang siap untuk diburu oleh para pemburu?.
Wahai teman-teman guru, tulisan pak Renald Kasali yang bagus ini harus dibaca, dan direnungkan, kalau guru bukanlah seorang pemburu. Guru adalah seorang pendidik yang dapat menghantarkan anak didik mencapai perubahan tingkah laku, yang menghantarkannya menjadi manusia beradab dan berpengetahuan. Apalah artinya sekolah, bila para guru masih memperlakukan peserta didik seperti binatang peliharaan yang siap untuk diburu. Bukan diburu untuk dimakan dagingnya, tapi diburu untuk diambil kehebatannya lalu terhempas dari dunia remajanya. Keunikan peserta didik menjadi hilang karenanya.
Saya pun setuju dengan pendapat Pak Rhenald Kasali, bila ada guru yang mengabaikan faktor keunikan anak didiknya adalah pemburu, dan bagi saya pemburu bukanlah pendidik. Pemburu menatap tajam anak didiknya yang tak masuk ranking, menghukum dan kadang menyiksa. Di televisi sering kita saksikan rekaman gambar guru yang menyiksa murid-muridnya.
Tanpa kita sadari, anak-anak pintar pun tak luput dari ”penyiksaan” pemburu yang berkedok guru. Mereka dituntut menunjukkan kehebatan dan selesai lebih cepat dari jadwal. Keunikan masing-masing tidak diterima sebagai kehebatan.
Sungguh saya termenung dan tersadarkan dengan tulisan itu, kalau begitu caranya banyak murid-murid saya yang telah diambil oleh para pemburu. Mereka benar-benar pemburu dan bukan pendidik. Begitu banyak anak-anak didik saya di Labschool telah diambil oleh para pemburu dan dimanfaatkan untuk kepentingan negara lain. Salahkah mereka? Mereka tidak bersalah. Kita lah yang salah, termasuk pemegang kebijakan pendidikan bangsa ini, karena tak mampu memberikan pelayanan yang baik kepada anak cerdas dan berbakat. Mereka pun merasa tertampung dalam sangkar emas kehebatan negara lain.
Wahai para guru, jangan mau jadi pemburu, jadilah pendidik. Pendidik bangsa ini yang profesional di bidangnya sehingga dapat menghantarkan anak didik kita ke pintu gerbang kesuksesan. Jangan biarkan David-david lainnya menjadi korban para pemburu. Sekolah harus menjadi lembaga yang menuangkan membahagiakan peserta didik. Ingatlah bapak dan ibu guru, mereka-mereka yang kini sukses dalam hidupnya, adalah mereka-mereka yang dulu pernah dicap sebagai pecundang dan mungkin kita menganggapnya bodoh. Namun kenyataan mengatakan, mereka yang memiliki keunikan inilah yang justru menjadi manusia hebat di masa depan.
Oleh karena itu, mulailah dari sekarang, jadikan diri kita para guru untuk menjadi seorang Pendidik. Sadarilah dari sekarang bahwa kita adalah para pendidik yang terus dan harus membimbing peserta didiknya untuk mampu bersaing dalam cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berikutnya om Jay menambahkan, bahwa hubungan antara tulisan Bapak Rhenald Kasali dan kejadian tragedi susur sungai yang akhirnya viral itu, menurut pendapat saya memang sekarang ini sangat banyak pendidik bukan lagi mengemban amanah mendidik. Namun justru malah berperan sebagai pemburu yang memburu para peraih "prestasi". Apalagi di Jakarta, guru atau kepala sekolah negeri akan mendapat tambahan tunjangan kinerja daerah ketika ada siswanya yang berprestasi. Hal ini menjadi penyemangat sekaligus menyamarkan tugas mendidik menjadi pemburu. Memforsir siswa agar berprestasi mengungguli sekolah-sekolah lain yang akhirnya bisa menambah tunjangan kinerja bagi guru dan kepala sekolahnya. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Tetaplah menjadi pendidik yang tulus ikhlas menghargai keunikan masing-masing peserta didik.
Lalu apa kaitannya dengan judul bahwa "Guru pemburu bukan pendidik"? Om Jay kembali bertanya. Apa kaitan guru dengan lokomotif? Kaitannya adalah guru sebagai masinis, dan lokomotif di dalam ruang kelas. Guru itu bagaikan masinis kereta yg membawa keretanya sampai ke tujuan dengan nyaman. Semua penumpang dibuat nyaman berada di dalamnya. Walaupun harus 24 jam dalam kereta misalnya.
Ya, Master, jawab salah seorang peserta. Kalau pertanyaan dari video, lihat rel dan rumput-rumput di sekelilingnya seperti animasi, Tidak ada di alam nyata. Tidak rel kereta seperti yang di video. Itu pelajaran berpikir tingkat tinggi. Tak ada kereta di dunia nyata seperti itu, kata Om Jay memberi komentar jawaban peserta.
Iya, baru melihat ada rel kereta api berliku-liku jadi takut terperosok. Itu dari mana dan di negara mana yaa??? Keren juga judulnya, Guru Pemburu bukan pendidik. Berarti termasuk juga mereka yang hanya sekedar mengajar tanpa melakukan proses pendidikan. Perilaku pemburu dalam pendidikan harus hilang dalam dunia pendidikan kita. Sebab pemburu bukan pendidik. Sekolah adalah tempat dimana terlihat peradaban ilmiah, sikap saling menghargai, dan penghuninya merasakan kebahagiaan karena sekolah adalah rumah kedua. Sekolah tidak boleh menjadi lembaga yang meresahkan anak didik. Sekolah ramah anak harus terus dikampanyekan.
Mari kita menjadi pendidik dan bukan pemburu
BalasHapusOk om jay. Maaf, teks yg masuk tdk lengkap
BalasHapus