BERLATIH MEMBUAT NASKAH DRAMA
TEMA PAHLAWAN NUSANTARA
JUDUL: "I GUSTI NGURAH RAI"
Oleh :
-
Syauqi M A (31)
-
Farrel A F (07)
Disaat masyarakat Bali sedang
menjalankan aktifitasnya, tiba-tiba datanglah pasukan Belanda kurang lebih 2000
tentara. Dan menguasai pulau Bali. Mendengar kedatangan Belanda rakyat Bali
ketakutan. Dan berteriak histeris.
Jendral
Belanda : “Mulai hari ini, pulau
ini adalah milik kita. Kalian semua mulai detik initunduk padaku. Hahaha..... (kata Jendral
Belanda kepada Rakyat Bali Mari kita kembali ke markas!
Prajurit
Belanda 1&2 : “Siap Jendral.”
Setelah Jendral Belanda tersebut kembali
ke markasnya. Datanglah Komandan I Gusti Ngurah Rai bersama prajuritnya dari
Yogyakarta.Sontak Komandan I Gusti kaget, melihat kondisi pulau Bali yang telah
didatangi oleh pasukan Belanda.
I
Gusti
: “Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?”
Prajurit
Bali
1 : “Ini pasti Belanda, Karai”
I
Gusti : “BELANDA!”
Prajurit
Bali
2 : “Lihat Karai! Itu bendera Belanda, Karai”
I
Gusti : “Belanda. Belanda KURANG AJAR. Mereka datang pasti untuk
menjajah. Kita tidak bisa diam saja, Ayo kita ke markas!”
Prajurit
Bali 1&2 : “Siap Komandan.”
Sesampainya Komandan I Gusti Ngurah Rai dan pasukkannya sampai ke Markas.
Komandan I Gusti Ngurah Rai membicarakan penyebab datangnya pasukan Belanda ke
pulau Bali. Karena disebabkan oleh isi dari perjanjian linggarjati, yang
mengharuskan Belanda meninggalkan daerah de facto.
I
Gusti : “Ini, adalah akibat
dari perjanjian linggarjati.”
Prajurit
Bali 1 : “Apa! perjanjian linggarjati.
Maksud Komandan surat dari pusat”
I
Gusti :
“Ya. Surat dari pusat yang berisi tidak mengakui wilayah bali bukan sebagai
wilayah Indonesia.”
Prajurit
Bali 2 : “Bagaimana bisa seperti ini?
Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan?”
Prajurit
Bali 1 : “Ada apa sebenarnya Komandan?
Kenapa kita tidak diakui?”
I
Gusti : “Tenanglah. Ini juga, pasti ulah Belanda.
Mereka pasti ingin memecah belah
kita. Yang harus kita ingat adalah, meskipun kita tidak diakui sebagai
wilayah Indonesia dalam perjanjian linggarjati. Tapi jiwa dan raga tetaplah
di Indonesia.”
Prajurit
Bali 2 : “Kita buktikan kepada pusat, bahwa kita juga berjuang untuk kemerdekaan
Indonesia.”
Sedangkan di markas Belanda, Jendral Belanda sedang menyusun rencana untuk
membujuk Komandan I Gusti Ngurah Rai agar mau untuk bekerjasama dengannya.
Jendral
Belanda : “Kita harus
mencari cara agar para monyet Bali itu mau bergabung
bersama kita”
Prajurit
Belanda 1 : “Kenapa harus bergabung bersama
kita? Mereka hanya berguna
sebagai lap sepatu kita, apa
juga untungnya untuk kita?”
Prajurit
Belanda 2 : “Ha.Ini namanya strategi”
J Jendral
Belanda : “Sudah. Saya
sudah meminta kalian berdua untuk tidak berkelahi
disini. Jika Bali ada di tangan kita, ini akan mempermudah kita
untuk menyerang Indonesia dari arah timur.”
Prajurit
Belanda 2 : “O...kalau begitu kita
ancam saja mereka, Jendral”
Prajurit
Belanda 1 : “atau kita bawa saja
mereka ke markas kita ”
Jendral
Belanda 2 : “Ah...apa itu yang
kalian sebut dengan membujuk, HA! Jika seperti
itu, para monyet Bali akan
menyerang kita.”
Prajurit
Belanda 1 : “Jendral, bagaimana jika
Jendral bertemu dengan pimpinan tentara
mereka. Lalu membujuk
mereka agar bergabung dengan kita,
mereka
itu orang bodoh jendral.”
Jendral
Belanda : “Saya pikir itu
ide yang bagus. Kalau begitu aku akan menemui
mereka melaui surat.”
Setelah, Jendral Belanda menulis surat. Lalu surat tersebut dikirim ke markas
pasukan Bali. Sesampainya surat itu di tangan Komandan I Gusti Ngurah Rai,
emosinya memuncak ketika membaca isi surat yang ditulis oleh Jendral Belanda
tersebut. Yang berisi, bahwa Jendral Belanda ingin melakukan perundingan
dalam pembentukan Negara Indonesia Timur. Komandan I Gusti Ngurah Rai akan
menjadi pemimpin negara ini dibawah pemerintahan Belanda.
I
Gusti :
“Tidak...”
Prajurit
Bali 1 : “Ada apa Komandan?”
I
Gusti :
“Mereka mengajak kita bergabung dalam pembentukkan Negara Indonesia
Timur. Mereka pikir kita pengkhianat. TIDAK...”
Setelah membaca isi surat yang ditulis oleh Jendaral Belanda, Komandan I Gusti
Ngurah Rai lalu meminta prajuritnya untuk mengirim surat balasan kepada Jendral
Belanda. Yang berisi, bahwa Bali bukanlah tempat untuk melakukan perundingan
jika Jendral Belanda ingin melakukan perundingan silakan katakan kepada pusat
di Yogyakarta. Karena rakyat Bali bukanlah pengkhianat bangsa.
Membaca jawaban dari Komandan pasukan Bali tersebut, Jendral Belanda naik
pitam. Lalu Jendral Belanda tersebut menyuruh salah satu prajuritnya untuk
memenggal kepala pembawa pesan tersebut, dan mengirim potongan kepalanya ke
markas pasukan Bali.
Di
markas pasukan Bali,...
Prajurit
Bali
1
: “Apa ini?”(mengambil sebuah bungkusan dan didalamnya terdapat
kepala si pembawa pesan
komandan I Gusti)
I
Gusti
: “Ada apa? Apa itu?”(membuka bungkusan kepala tersebut)”Belanda
kurang ajar, mereka pikir
kita akan diam saja, setelah diperlakukan
seperti ini. Ayo kita
hadapi mereka!!’
Prajurit
Bali 1&2 : “Siap Komandan!”
Pada saat malam hari, Komandan I Gusti
Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam
penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.
Saat telah memasuki markas Belanda di Tabanan,...
I
Gusti
: “Dimana para keparat-keparat itu?kau cari kesana, dan kau cari kesana".
Prajurit
Bali 1&2 : “Baik Komandan.”
Jendral Belanda marah, ketika mengetahui pasukannya telah dikalahkan I Gusti
Ngurah Rai dan pasukannya.
Jendral
Belanda : “OVERDOOMS,
para monyet Bali itu kurang ajar. Kita harus
memikirkan cara untuk mengalahkan para monyet Bali itu”
Prajurit
Belanda 2 : “Bagaimana bila kita serang
balik mereka?”
Jendral
Belanda : “Itu ide yang bagus.
Ayo kita serang balik mereka!”
Prajurit
Belanda 2 : “Siap Jendral!”
Sebelum I Gusti ), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur
Pulau Bali, di dalam rumah I Gusti Ngurah Rai berbicara kepada
istrinya,..
I
Gusti
: “Ada apa? Mengapa kau gelisah,soal Belanda? Mereka telah pergi”
Desak
Putu Kari : “Perasaanku,
tidak tenang bli.”
I
Gusti
: “Tenanglah, De.”
Ditengah percakapan I Gusti dan
istrinya, dari luar seorang prajurit Bali berteriak...
Prajurit
Bali 1 : “Parai...Parai...Parai”
I
Gusti :
“Ada apa?”
Prajurit
Bali 1 : “Belanda menyerang desa di Marga, Parai”
I
Gusti :
“Apa? Bagaimana bisa?”
Prajurit
Bali 1 : “Sepertinya mereka mendapat kiriman pasukan bantuan, jumlah
mereka semakin banyak. Bahkan lebih
banyak dari jumlah pasukan kita
yang telah ditambah.”
I
Gusti :
“Sebanyak apapun pasukan mereka, kita tetap harus mempertahankan
Bali. Yakinlah, kita pasti dapat
mengalahkan mereka. Silahkan berjuang,
hingga tetes darah
terakhir”
Prajurit
Bali 1 : ”Siap Karai, aku yakin Bali akan memenangkan perang ini”
I
Gusti : “Iya,
silahkan kamu keluar dahulu”
Prajurit
Bali : “Siap,laksanakan. Karai.”
Lalu setelah prajurit tersebut keluar I Gusti Ngurah Rai melanjutkan kembali
pembicaraan bersama istrinya...
Desak
Putu Kari : “Apa kamu
yakin bli, prajuritmu akan menang?”
I
Gusti
: “Bli yakin, rakyat bali adalah rakyat yang memiliki semangat teguh
dalam mempertahankan kekuasaan pulau Bali, tapi
de ini adalah
tugasku dan kewajibanku”
Desak
Putu Kari : “Tapi
ingatlah tugasmu bukan hanya menjadi seorang Komandan,
tetapi juga kepala keluarga ini”
I
Gusti
: “De, buat apa kita hidup bersama de. Jika dalam keadaan terjajah,
buat apa de kita hidup bersama, jika angan-angan jika harapan
hanyalah jadi sesuatu yang semu. Ingatlah de, anggaplah bli sudah
mati de. Tidak usah kau pikirkan kapan bli akan pulang,ini
kewajibanku. Maaf de, bli harus pergi. ”
Desak
Putu Kari : “Pergilah,
demi bangsa ini aku rela.”
Setelah itu I Gusti Ngurah Rai berpamitan dengan istrinya, dengan mengecup
tangan istrinya. Lalu, ketika I Gusti telah pergi Desak Putu berdoa,...
Desak
Putu Kari : “Tuhan,
tolong jaga suamiku demi keamanan Bali,negeriku dan juga
keluargaku.”
Sesampainya, di markas pasukan Bali. Komandan I Gusti Ngurah Rai, berusaha
untuk menyemangati pasukannya untuk mengalahkan pasukan Belanda.
I
Gusti
: “Baik, kita harus megusir para penjajah yang datang. Kita gunakan
pedang, jika pedangmu patah gunakanlah kedua tangan untuk
membunuh. Jika tanganmu patah gunakanlah gigimu untk mengigit.
Dan jika gigimu patah gunakanlah kedua bola matamu untuk
mematahkan semangat lawan.Mari kita hadapi para penjajah Ayo...”
Prajurit
Bali 1&2 :
“Siap...Komandan!”
Siang harinya, 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara),
melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba
di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga,
Tabanan, Bali. Prajurit Bali dan Belanda berseru untuk memulai pertempuran
Prajurit
Belanda 1 : “Siap Serang!”
Prajurit
Bali
2
: “PUPUTAN!”
Terjadilah pertumpahan darah antara pasukan Bali dan Belanda. Sayangnya,
pasukan Bali kalah karena jumlah pasukan Belanda yang lebih banyak. Dan
persenjaatan Belanda yang lebih maju dari pasukan Bali, Belanda juga
menggunakan bom dari pesawat udara. Komandan I Gusti Ngurah Rai, akhirnya
meninggal di tangan Jendral Belanda dengan satu kali tembakan pistol.
Jendral
Belanda : “Bangun kau!
Katakan apa yang ingin kau katakan! Bangun!”
I
Gusti
: “PUPUTAN!”
Perang sampai habis atau puputan inilah yang
kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian
dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di
Marga adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan
kolonial Belanda demi Nusa dan Bangsa.
______________________________
Komentar
Posting Komentar